Déjà vu of Love - 6
Seharian ini Desi menghabiskan waktunya hanya dikamar. Besok
Desi akan mengurus surat-surat pindahnya ke sekolah barunya di Aceh. Biarlah
hari ini Desi mengistirahatkan tubuhnya sebelum besok akan bercapek ria dengan
mengurus surat pindahnya.
Tubuhnya membutuhkan sedikit istirahat, dikarenakan lelah
menghadapi masalah dihari kemarin. Hatinya juga lelah menahan sakit yang luar
biasa.
Ketika masih memejamkan matanya, tak lama ponsel Desi
berbunyi. Dari nomor yang gak ada namanya.
“Hallo assalamualaikum”
“heh cewek gatal ngapain kau ganggu pacar aku hah?”
“dijawab dulu kek salamnya, maaf ini dengan siapa ya?”
“aku pacarnya Bayu, kan udah aku bilang. Ngapain kau ganggu
pacar aku hah? Jadi cewek jangan kegatelan lah, gak laku ya makanya gangguin
pacar orang”
Hilang sudah kesabaran Desi mendengar ucapan wanita ini
“heh siapa yg ganggu pacar kau hah? Kau yang ganggu pacar aku
gak? Eh kau gak tau ya, sebelum kau pacaran sama Bayu dia tu punya pacar. Pacar
dia tu aku. Kau lah yang gangguin pacar aku. Sebelum ngomong itu di pikir dulu
ya mbak. Ada otak kan? Dipake makanya mbak jangan di simpen di kulkas”
Terdengar suara wanita itu agak menjauh dari ponselnya.
“Coba abang
jelasin, jadi adek selingkuhannya abang? Abang dulu pernah pacaran sama dia.
Ini yang betolnya gimana bg? Jelasin ke adek.”
“adek
jangan percaya sama omongannya dia, dia bukan siapa-siapanya abang. Adek pacar
abg satu-satunya.”
“jadi
kenapa dia bilang gitu barusan?”
“abang gak
tau, mungkin dia pengen kali jadi pacar abang sampek bilang-bilang kayak gitu.”
“Kau bisa dengar sendiri kan? Itu cowok sendiri yang bilang.
Dia gak pernah pacaran sama kau. Jadi kau gak usah begatal lagi sama dia.
Jelas?”
Hanya mampu diam tak bisa berkata-kata lagi. Yang tadi
posisinya duduk sekarang tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Desi langsung
mematikan ponselnya dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Kini terasa bagai di
timpa dengan benda keras. Dadanya terasa sangat sesak sekali.
Yang terlintas dipikirannya adalah kenapa Bayu segitu teganya
bilang aku lah yang berharap jadi pacarnya. Jelas-jelas Bayu yang ngajak aku
pacaran malam itu. Secepat itukah seseorang berubah. Secepat itukah rasa sayangnya
hilang.
Mata ini tak henti-hentinya mengeluarkan air mata dan mulut
ini tak mampu berkata apapun. Menangis dalam diam yang mampu aku lakukan saat
ini.
*******
Desi terbangun ketika Mami memanggilnya dari luar kamar dan
berusaha bangkit dari tidurnya. Membuka gorden kamarnya. Cahaya matahari
langsung menyapu rata wajahnya. Hangat. Itu yang Desi rasakan saat ini.
Kehangatan matahari pagi setidaknya membuat rasa sakit dihatinya berkurang
sedikit. Walaupun masih terasa sakit sekali.
Desi teringat kejadian semalam dia berantam hebat dengan Bayu
dan wanita yang mengaku sebagai pacarnya itu. Karna terlalu lelah menangis
mungkin dai ketiduran semalaman.
Desi segera mengambil handuknya dan masuk ke dalam kamar
mandi. Dia harus membersihkan diri sebelum pergi mengurus surat pindah ke
sekolah.
Setelah berpakaian rapi Desi keluar dari kamarnya berjalan
menuju meja makan dan duduk di salah satu kursi. Disitu sudah ada Mami yang
sedang membuatkan roti untuk Bapak dan Bapak yang sedang menikmati kopinya.
“Sarapan dulu nak, kamu semalam ketiduran gak sempat makan
malam.”
“iya mi”
Setelah menghabiskan sarapannya, Desi berjalan ke pintu depan
dan memakai sepatunya. Selesai memakai sepatu, Bapak keluar dari kamarnya.
“ayok nak kita berangkat”
“iya pak”
Berhubung Desi gak bisa mengendarai motor, dia pergi ke
sekolah barunya diantar Bapak. Karna dulu pernah ada kecelakaan yang buat Desi
trauma untuk mengendarai motor.
Dulu dia pernah jatuh dari motor ketika Fatin sepupunya yang
mengendarai motor. Dari sejak itu dia gak berani mengendarai motor.
Sekitar 15 menit sampailah di sekolah barunya Desi. Bapak
berjalan menuju ruang tata usaha diikuti oleh Desi yang berjalan dibelakang
Bapak.
Setelah menyelesaikan urusan adminitrasi, Desi diantar ke
kelasnya dengan salah satu pegawai TU.
Desi udah menyelesaikan kelas 1 SMA nya dipondok, di Aceh dia
meneruskan kelas 2 SMAnya.
Desi memasuki kelasnya. Terlihat seorang ibu guru sedang
mengajar didepan kelas. Didepannya ada murid yang sedemerhatikan. Murid yg
duduk bagian belakang sibuk dengan aktifitasnya tanpa memperdulikan gurunya
didepan.
“Assalamualaikum” ucap pegawai TU yang mengantar Desi
“Waalaikumsalam” dijawab serempak semua yang ada didalam
kelas.
Pegawai TU tersebut berjalan mendekati guru yang didalam
kelas dan membisikan sesuatu. Entahlah apa yg dibisikkan. Hanya anggukan kepala
yang dilakukan ibu guru itu.
Setalah itu pegawai TU keluar dari kelas dan menyuruh Desi
masuk ke kelas. Bersamaan dengan Desi berjalan masuk ke dalam kelas ibu itu
bangun dari kursinya berjalan mendekati Desi. Desi langsung menyalami ibu itu.
“perhatian anak-anak semuanya, kita kedatangan teman baru. Silahkan
langsung aja perkenalannya”
Desi menganggukan kepalanya pertanda mengiyakan ucapan ibu
itu.
“Assalamualaikum teman-teman” ucap Desi
“Waalaikumsalam”
“Perkenalkan nama saya Desi Permata Sari. Dulu saya sekolah
di Pondok Pesantren Karawang Jawa Barat”
“Hay Desiiii” serentak dijawab teman-teman sekelas Desi
“Desi duduk di samping Fitri ya”
“Baik buk” jawab Desi
“Oke baik anak-anak kita lanjutkan lagi ya pelajarannya”
*******
Komentar
Posting Komentar