Déjà vu of Love - 5

Sudah 8 bulan berlalu, sekarang memasuki bulan ke 9 Desi belajar di pondok. Banyak yang udah ia pelajari disini. Tentang agama, kehidupan, teman, masih banyak lagi.

Selama disana badan Desi tidak bisa menerima dengan baik hidup di pondok. Ada aja penyakit yang menyerang tubuhnya. Dari cacar, biduran, hingga 1 waktu ada seperti daging di ketiaknya sampai saat ini Desi gak tau penyakit apa itu. Udah dibawa ke orang pintar/bidan didekat pondok juga belum diketahui penyakit apa.

Bidan yang Desi kunjungi itu menyuruh Desi segera mengeceknya ke rumah sakit. Sepertinya perlu di lakukan operasi sebagai tindak lanjut dari penyakit Desi ini. Sebelum semuanya terlambat.

Desi belum kabarin Bapak dan Mami. Tapi Fatin yang tau kalo ada daging lebih yang tumbuh di ketiaknya Desi takut. Dia nelfon mamaknya. Dan akhirnya dia memutuskan menelfon Bapak. Bapak dan Mami yang mengetahui hal itu dari Fatin sangat khawatir dengan Desi. Bapak langsung menelfon orang kepercayaannya di pondok. Dan meminta segera membawa Desi kembali ke Aceh.

Sesampainya di Aceh, Desi melakukan pengobatan rutin hingga akhirnya daging tersebut hilang dengan sendirinya. Tanpa harus melakukan operasi apapun. Selama pengobatan Desi memang gak sempat menghubungi Bayu untuk memberikan kabar apapun. Ketika Desi udah sembuh total, barulah Desi mengabari Bayu.
Desi mencoba telfon ke no hp Bayu.

“Hallo ...”
Desi tersentak kaget ketika mendengar suara perempuan yang menjawab telfonnya.

“iya hallo, Bayu nya ada kak?” tanya Desi dengan berhati-hati

“Bayunya lagi keluar, ada perlu apa ya?”

“oh gak ada kak, nanti kalo Bayunya udah pulang tolong telfon balik kemari ya”

“oh iya oke”

Desi langsung memutuskan panggilannya, dia terduduk seketika tak ada lagi energi untuk menompang tubuhnya. Desi masih bingung dengan apa yg barusan dia dengar. Dia tau itu bukan suara kakaknya Bayu.

Dan tidak mungkin kakaknya yang mengangkat ponselnya. Karna dia tau Bayu tidak akan memberikan atau menitipkan ponselnya ke sembarang orang apalagi meninggalkan ponselnya, Bayu bukanlah orang seperti itu.

Kondisi Desi saat ini lebih kritis dari saat dia mengalami penyakit aneh sebulan yang lalu. Melewati masa ktiris itu aja membuat Desi harus berjuang keras menjaga kesehatan tubuhnya agar menjadi normal kembali.

Malah sekarang harus mengalami hal semacam ini lagi rasanya ingin mati saja. Tubuhnya gak kuat apalagi hatinya.


******


Seminggu setelah Desi menelfon Bayu dan segala insiden lainnya yang menimpa Desi. Sekarang barunya Bayu menelfon balik Desi. Dan Desi sudah menghapus no Bayu dai ponselnya.

“Hallo Assalamualaikum, ini siapa?”

“Waalaikumsalam, ini abang dek”

“hah? Abang siapa ya ?”

“Ini abang dek, bg Bayu”

“oh abang, ada apa bg?”

“kok ada apa sih dek, adek kemana aja sebulan lebih gak ada kabar?”

“nah loh, seharusnya adek yang nanya ke abang. Kemana aja abg sebulan ini gak ada kabarin adek sekali pun. Adek ada hubungin abang seminggu yg lalu tapi yg angkat telfonnya cewek. Gak mungkin itu kakak abg. Jadi bisa abang jelasin itu siapa?”

“kita harus jumpa dek, sekarang”

“boleh, dimana ?”

“abang aja yg kerumah adek”

“iya boleh”

Panggilan diakhiri, Desi bersiap-siap menggunakan hijabnya. Semenit kemudian ponselnya berbunyi.

“maaf adek abang gak bisa datang sekarang, nanti abang kabarin lagi kalo abang bisa”

Klik panggilan diakhiri

Desi masih terdiam ditempatnya entah kenapa kakinya terasa berat untuk berpindah dari tempatnya ke tempat lain. Desi bingung, apa yang terjadi dengan hubungannya saat ini. Apa hubungan ini sedang diuji? Apa hubungan ini akan berakhir secepat ini? Apa yang harus ia lakukan saat seperti ini?

Entahlah saat ini kepalanya terasa sangat pusing, sebelum akan benar-benar jatuh kelantai Desi mundur beberapa langkah hingga kakinya menyentuh kaki tempat tidurnya dan langsung menjatuhkan badannya. Memejamkan mata dan enggan untuk membukanya.

Banyak sekali pikiran negatif berputar-putar dia kepalanya saat ini. Terlalu banyak, sangat banyak. Hanya dengan tidurlah dia bisa membuang pikiran-pikiran itu semua dari kepalanya. Tapi matanya enggan untuk tertidur.

Ya Allah cobaan apalagi yang saat ini aku hadapi, tapi aku tau kau yakin aku bisa menghadapinya.

Dengan sekuat tenaga yang tersisa, keberanian yang ada dan hati yang teramat sakit Desi mengambil ponselnya dan menelfon Bayu.

“Hallo ini siapa sih? Ada perlu apa sih sama pacar aku?”

Desi mendengarnya bagai disambar petir. Diam tak sanggup menjawab pertanyaan waniti itu.

“Hallo, siapa ini?” wanita itu bersuara lagi

“Bayunya mana? Saya perlu bicara sama dia”

“Bayunya gak ada, bicara aja sama aku. Ada apa?”

“Saya perlunya sama Bayu, bukan sama kamu. Kamu siapa sih? Kenapa hp Bayu ada di kamu?”

“Aku pacarnya Bayu”

Tiba-tiba panggilan dimatikan. Desi gak sanggup mendengar kelanjutannya. Dadanya terlalu sesak. Hatinya benar-benar gak kuat untuk menerima kenyataan ini. Kenapa Desi merasa jadi selingkuhannya padahal jelas –jelas Desi lah yang diselingkuhin. Dan wanita itu lah yang jadi selingkuhannya bukan Desi. Kenapa ini semua bisa terjadi?

Jelas-jelas mereka belum ada kata putus sekali pun. Kenapa wanita itu bilangnya pacar Bayu? Bayu selingkuh? Tapi kenapa? Kenapa seperti gak mungkin Bayu selingkuhin aku ya?

Dddrrrrrrtttt...

Ponsel Desi bergetar, terlihat no ponsel Bayu melayang-layang. Desi langsung menyeka air matanya dengan cepat langsung mengangkat telfon dari Bayu.

“abang bisa jelasin ke adek cewek itu siapa?”

“abang minta tolong adek jangan ganggu-ganggu abang lagi”

“hah adek ganggu abang? Oh maaf lah ya udah ganggu”

“itu karna adek yang gak ada kabar sama sekali”

“oh gitu, yaudah adek minta maaf ya. Semoga langgeng sama pacar barunya, eh maksudnya sama selingkuhannya abang. Assalamualaikum”

Desi memutuskan panggilannya dan melempar ponselnya ke atas kasur dengan kesal. Saat ini perasaannya bercapur aduk. Sedih, kesal, marah, dirinya sendiri udah gak paham lagi sama perasaannya.


Dan sikap Bayu seperti mengatakan akulah yang menjadi titik permasalahannya, akulah yang menjadi selingkuhannya selama ini, dan akulah yang mengganggu hubungan mereka.

Komentar