Déjà vu of Love - 4
“Diberitahukan kepada Saudari Desi Permata Sari dari Aceh
mohon segera kekantor dikarenakan ada panggilan dari keluarganya”. Suara wanita
salah satu pegawai di pondok mengumumkan.
Mendengar pengumuman itu Desi merasa terkejut. Keluarga ?
siapa ya ? itu yang terlintas dibenak Desi.
Sepanjang jalan dari kamar menuju kantor pondok Desi gelisah,
keluarga dia yg mana nelfon. Apa mungkin bapak?
Sampai di kantor Desi berjumpa dengan pegawai wanita yang
duduk didekat telfon.
“Cari siapa mbak?” ucap pegawai itu
“tadi ada panggilan atas nama Desi Permata sari”
“oh iya mbak, udah berapa kali di telfon sama abangnya”
Desi kaget dengan perkataan pegawai itu. “Abangnya”. Abang
siapa ya ? Desi masih bingung siapa yang nelfon ngaku sebagai abangnya.
“oh iya mbak?” ucap Desi tak percaya
“iya mbak, tunggu ya mbak. Tadi saya bilang ke abangnya mohon
ditunggu ya mas, 10 menit lagi nanti ditelfon lagi ya mas”.
“ohya mbak Desi silahkan duduk dulu”
“oh gitu ya mbak. Iya mbak, makasih”
Desi duduk dengan rasa penasaran. Siapa orang yang mengaku
sebagai abangnya itu. Kalo bapak gak mungkin. Pasti nama Fatin juga disebut.
Kriinggg ......
Bunyi telfon yang segera diangkat oleh mbak pegawai yg tadi.
“ini mbak Desi abangnya”
“iya mbak. Halo assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, adek apa kabar?” jawab suara diseberang sana
yang tidak asing ditelinga Desi.
“jeh abang kok? Alhamdulillah adek baik”
“Iya jadi adek pikir siapa?”
“Abang berani kali kok telfon ke nomor kantor?”
“Jadi gimana? Abang mau telfon adek lewat mana lagi?”
Gak lama hanya sekitar 10 menit mereka telfonan. Karna merasa
gak enak dengan pegawai disitu. Lagi pula juga udah di liatin pake ujung mata
sama mbak dan mas disitu. Desi mengakhiri pembicaraan mereka. Untungnya gak ada
yg curiga kalo itu bukan abang kandung Desi. Karna logat bicara orang Aceh dan
Jawa berbeda. Jadi mbak dan mas disitu gak terlalu paham apa yang mereka
bicarakan.
Setelah mengakhiri telfon dengan Bayu, Desi balik kekamarnya.
Fatin langsung menghampiri Desi yang baru saja menutup pintu kamar.
“Siapa kak Des?”
“Bayu Tin”
“Serius kak? Kok berani kali dia telfon ke nomor kantor?
Perasaan Firman aja gak berani telfon aku lewat nomor kantor” tanya Fatin
dengan nada agak sedikit kesal. Firman dan Fatin juga menjalin hubungan. Karna
Ayu memilih pria lain, Firman memutuskan menjalin hubungan dengan Fatin. Adik
sepupunya Desi.
“Gak tau dia tu, mungkin kangen kali sama aku”
*******
Bulan ke bulan Desi di pondok masih dengan rutinitasnya.
Ketauan bawa hp, disita terus beli lagi disita lagi beli lagi. Yah gitu-gitu
aja sampai ketitik kebosanan yang di alami Bayu.
Masuk bulan ke 6. Satu hari Bayu hilang tanpa kabar. Di
telfon gak diangkat, disms juga gak dibalas. Melihat Bayu seperti ini membuat
Desi bingung.
Disatu waktu Bayu mengangkat telfon Desi. Katanya dia lagi
sibuk dengan tugas kuliahnya yang semakin hari semakin banyak. Itu yang membuat
dia gak mengangkat telfon dari Desi.
Desi percaya dengan Bayu. Melebihi percaya pada dirinya
sendiri. Bayu bukan termasuk lelaki ganteng pada umumnya. Dia hanya lelaki
biasa dengan penampilan sederhananya namun tetap keren dimata Desi.
Bayu memiliki badan yang tidak terlalu tinggi. Seperti lelaki
pada umumnya dia memiliki mata, hidung, mulut, telinga. Alhamdulillah masih
lengkap semuanya. Namun ada satu hal spesial yang membuat Desi begitu tertarik
dari diri seorang Bayu Muhammad Putra Hasyim.
Bayu juga bukan orang yang terbilang romantis. Tapi bagi Desi
setiap yang Bayu lakukan untuknya itu semuanya romantis. Entah pelet apa yang
dipakai Bayu sampai buat Desi tergila-gila seperti ini padanya. Yang pasti rasa
sayang itu yang menguatkan segalanya.
Jalani hubungan jarak jauh memang sulit. Banyak cobaan yang
harus dihadapin. Wanita kagum melihat pria itu wajar saja. Hanya sekedar rasa
kagum bukan rasa suka apalagi sayang.
Ardian Syahputra Bramantio. Yang sering disapa Ardi ini lelaki
yang dikagumi Desi karna memiliki wajah yang unik. Badannya sama seperti Bayu.
Berisi dan gak terlalu tinggi. Itu yang membuat Desi kagum dengan Ardi. Namun
Desi gak menjalani hubungan apa-apa dengan Ardi. Didalam benaknya selalu
terucap “Aku punya pacar di Aceh, disini gak akan menjalani hubungan dnegan
siapa-siapa”. Walaupun banyak
teman-teman yang men-ciecie mereka. Tapi mereka gak biasa aja. Hanya sebatas
teman dekat saja.
*******
Hari ini Bayu masih sibuk dengan tugas kuliahnya. Entah apa
yg di mimpikan dosennya sampai memberikan tugas sebanyak ini. Yang buat Bayu
kuat mengerjakan tugas-tugasnya itu adalah semangat dari orangtua, kakak dan
adiknya.
Bayu merupakan anak kedua dari 3 bersaudara. Yg pertama ada
kakaknya yang sekarang ini bekerja di rumah sakit milik pemerintah di kota
Banda Aceh dan adiknya yang masih duduk dikelas 3 SMP.
Orangtua Bayu sendiri sekarang masih bekerja. Ayahnya seorang
pengusaha rumah makan dan ibunya seorang guru di sekolah dasar. Bayu anaknya
sangatlah penurut dan patuh sama orangtuanya. Yang membuat dia semakin patuh
saat dia harus jatuh sakit berbulan-bulan karna sebuah penyakit yang
mengharuskan dia beristirahat total dan menjaga makanan yang ia makan.
Bayu gak pernah makan diluar, selalu makan masakan ibunya.
Walaupun seorang guru ibunya cukup memenuhi semua kebutuhan anak-anaknya.
Benar-benar kekuatan seorang ibu, walaupun sibuk dengan profesinya dia tetap
mampu memperani 2 tokoh sekaligus. Jiwa keibuannya tak pernah pudar dari
dirinya.
Begitu juga dengan ayahnya, selalu bisa menjadi ayah yang
selalu dikagumi oleh anak-anaknya. Dia juga tak pernah melarang istrinya untuk
bekerja. Bukan karna dia tak mampu menafkahi istri dan anak-anaknya. Tapi
pekerjaan yang istrinya lakukan sangatlah mulia. Tidak hanya menjadi guru bagu
anak-anaknya tapi juga menjadi guru bagi anak-anak bangsa diluar sana.
Bayu ini sangat menurunkan sifat ayahnya. Penyayang wanita.
Itu yang selalu Bayu tanamkan dalam dirinya. Wanita itu harus disayangi. Jangan
pernah kasar dengan wanita. Dia selalu ingat dengan ibu dan kakaknya.
Bagaimana suatu hari nanti ada yang menyakiti ibu dan
kakaknya. Dia tidak akan pernah memaafkan orang tersebut sekalipun itu ayahnya.
Makanya dia selalu tak ingin menyakiti wanita manapun.
Desi adalah wanita pertama yang ia sayangi. Insya Allah akan
menjadi yang terakhir. Seperti itulah ucapnya dalam hati. Desi Permata Sari.
Wanita yang ia jumpai sekitar 6 bulan yang lalu. Satu-satunya wanita yang
membuat dirinya nyaman berada didekatnya. Tak hanya nyaman, ia juga menyayangi
wanita itu. Namun saat ini ia harus berhadapan dengan ‘Jarak’. Jarak memisahkan
mereka sekitar 4 bulan lebih sampai sekarang.
*****
Komentar
Posting Komentar