Déjà vu of Love - 2

Ibunya Desi meninggalkan sebuah wasiat sebelum kepergiannya. Seakan-akan dia tau, dia akan pergi meninggalkan kedua anaknya. Wasiatnya memang tidak tertulis, melainkan hanya tersebut dari mulutnya saja. Ibunya Desi bicara dengan kakeknya Desi. ”Pak, kalau saya sudah tidak ada lagi. Tolong masukkan si Desi ke Pondok di Karawang, saya mau salah satu anak saya mengerti tentang agama”

Wasiat ibunya Desi di laksanakan oleh kakeknya Desi. Kakeknya Desi udah membahas masalah Desi yang akan dipondokkan di Karawang dengan Om dan Tante Desi. Mereka semua setuju untuk memondokkan Desi setelah tamat SMP. Karna mereka takut kalau tamat SMA, Desi pasti tidak akan mau.

Sudah bulat dengan keputusan Kakek, Nenek, Om dan Tante Desi. Desi akan mondok sekalian sekolah di Karawang sampai tamat SMA. Mendengar itu Desi bingung bagaimana dia bicara dengan Bayu.

Malam minggu ini Desi memutuskan untuk pergi ke rumah Tante Eti yang tak jauh dari rumahnya. Tante Eti adalah adik dari ibunya Desi. Desi lagi main dengan sepupu-sepupunya.

Kemudian ponselnya bergetar. Ia membuka ternyata pesan dari Bayu yang menanyakan dimana dirinya sekarang dan ingin jumpa dengannya. Dengan cepat Desi membalasnya. Dan menyuruh Bayu main ke rumah Tantenya. Bayu menuruti dengan langsung menlajukan motornya kearah rumah Tantenya Desi

Sampai dirumah Tantenya Desi, Bayu disambut ramah dengan Tantenya yang menyuruh Bayu masuk dan mempersilahkan duduk di ruang tamu. Desi keluar dari kamar sepupunya melihat Bayu yang sudah duduk di kursi tamu. Dan duduk di samping Bayu.
“Udah lama nyampek bg ?” ucapnya

“Baru aja kok dek” jawab Bayu.

Lumayan lama Bayu duduk berbincang-bincang dengan Desi dan memperkenalkannya dengan sepupu-sepupunya yang merupakan anak dari Tantenya itu. Bayu yang memang menyenangi anak kecil sangat suka dengan sepupunya Desi.

Tak lama datang Tante Nita. Tante Nita ini adiknya Tante Eti dan Ibunya Desi. Ibunya Desi anak pertama dari 5 Bersaudara.

 Melihat keponakannya itu sedang bersama cowok. Tante Nita menggoda keponakannya itu dengan melemparkan beberapa pertanyaan pada Bayu.
“Bayu tau Desi mau mondok di Jawa?” tanya Tante Nita

“Gak apa-apa ni Desi mondok ke Karawang?” sambung Tante Eti.

“Tau tante, gak apa-apa lah. Itu kan buat pendidikan Desi juga.” Jawab Bayu santai. Sebenarnya di merasa terkejut mendengar penyataan Tante Nita. Karna Desi belum bilang apa-apa tentang dia yang akan mondok ke Karawang.

“Bayu serius sama Desi?” tanya Tante Nita lagi

“Desi itu kayak anak-anak, Bayu tahan sama dia?” sambung Tante NIta

Bayu hanya tersenyum mendengar pertanyaan Tante Desi. Lalu Bayu melirik jam tangannya. Tertuju jam setengah 11 malam. Karena sudah larut, ia pamit izin pulang dengan Tantenya Desi.

Bangkit dari duduknya ia keluar menuju motornya yang terparkir di halaman rumah Tante Desi. Desi juga mengikuti Bayu menuju motornya. Kemudian Bayu pamit denga Desi. Lalu Desi menyalami tangan Bayu.
“Baik-baik dirumah ya” ucap Bayu. Itu perkataan yang selalu diucapkan Bayu ketika mau berpamitan pulang dengan Desi.

“Iya abang, hati-hati dijalan ya bg” jawab Desi

Bayu melajukan motornya mengarah kerumahnya. Lalu Desi kembali masuk kerumah Tantenya itu. Saat baru selangkah masuk Tantenya menggoda Desi. Karna Tantenya itu tak sengaja melihat Desi menyalami tangan Bayu.
“Cie belum apa-apa udah main salam-salam tangan aja” goda Tantenya jail.

“Ih Nte apaan sih, kayak dulu gak pernah pacaran aja” sindir Desi kemudian dia memilih mengambil jilbabnya dan segera pulang. Karna pasti kakenya itu akan marah kalau Desi pulang telat.
“Nte Desi pulang dulu ya, nanti dicariin Bapak” ucapnya sambil berlalu keluar rumah.

“iyaaaa Des” teriak Tantenya dari dapur yg lagi buat susu untuk anaknya.

*******

Mengingat Desi belum sempat memberitahu Bayu tentang keberangkatannya ke Karawang. Besok ia akan mencoba bicara dengan Bayu.

Desi sudah menceritakan semuanya kenapa bisa dia mondok ke Karawang. Mungkin dia akan lama disana karna dia mondok sambil sekolah. Bisa jadi dia disana sampai 3 tahun. Dan Bayu hanya mendukung semua untuk kebaikan Desi. Walaupun hatinya sangat berat harus berjauhan dengan Desi.

Tanpa hubungan yang jelas Bayu sangat menyayangi wanita yang sedang berdiri didepannya ini. Mana bisa dia lama-lama berjauhan dengannya. Namun dia bisa apa? Semua sudah menjadi keputusan keluarga Desi.

Seminggu sebelum keberangkatan Desi. Bayu ngajak Desi ketemuan. Entah kenapa malam itu Bayu dan Desi mengenakan pakain yang rapi. Bayu tetap gagah dengan kemeja polos biru dongker dan celana jeans membuatnya terlihat lebih gagah.

Desi yang mengenakan blouse dongker yang dipadukan dengan abu-abu dibagian lehernya dan celana jeans hitam dan jilbab yang senada.

Suasana diantara mereka tidak seperti biasanya. Tidak ada canda tawa yang biasa mereka lakukan saat ketemu. Wajah Bayu tak seceria biasanya. Kini wajahnya tampak tak bersemangat.

Mereka ketemu didepan pintu masuk komplek. Ditemani Ayu dan Firman. Karna akan membuat orang-orang komplek curiga kalau mereka ketemu hanya berdua saja.

Disitu pertama kalinya Bayu memegang tangan Desi. Diciumnya kening wanita yang sangat ia sayangi itu. Tanpa disadari air matanya sudah mengalir dipipinya. Sampai Firman dan Ayu terkejut melihat seorang Bayu menangis. Firman sangat kenal temannya itu. Dia tidak pernah menangis sekalipun apalagi karna seorang cewek.

Bayu tak menghiraukan temannya itu. Dia fokus dengan wanita didepannya ini.
“Dek abang gak bisa nahan adek untuk pergi. Tapi kalau untuk sekolah dan masa depan adek abang dukung 100% . dan adek tenang aja abang bakalan nungguin adek.” Ucap Bayu sambil memegang tangan Desi.

“Abang serius? Abang kan bisa cari cewek lain kakak-kakak dikampus abang kan banyak.”

“Enggak dek, abang gak mau.” Tangan Bayu yang sedari tadi gemetar. Apa lagi jantungnya serasa mau keluar dari tempatnya. Mata nya tak sanggup menahan bendungan air mata yang jatuh dipipinya.

“Dek abang mau ngomong lah. Adek mau gak jadi pacar abang?” sambung Bayu

“Kenapa baru sekarang bg?” tanya Desi yang tak sanggup menahan air matanya

“Gak tau dek, entah kenapa abang baru bisa ngomongnya sekarang.”

“Tapi sekarang kan kita harus pisah jauh, kenapa gak kemarin-kemarin abang bilangnya? Adek juga gak bisa mastiin adek disana bisa hubungin abang setiap hari. Adek juga gak bisa pastiin adek disana cuma setahun.” Ucap Desi dengan perasaan yang kacau.

“Gak apa-apa abang bisa hubungin kekantor tempat adek mondok” jawab Bayu dengan percaya diri.

“Yakin bg?”

“Yakin adek” lalu Bayu mencium kening dan memeluk Desi.

“Yaudah kita pulang yok” ajak Desi. Sebenarnya ia udah gak tahan rasanya ia pengen menangis. Tapi dia gak mau buat Bayu cemas.

“yaudah yok dek”


*******

Komentar